Wednesday, February 02, 2005

Namanya Kim

Namanya Kim. Rambutnya panjang sepinggang. Mukanya bulat. Matanya sipit dan dihiasi kacamata berbingkai hitam. Kulitnya seputih susu.Alisnya hitam tebal. Bibirnya merah muda tanpa lipstik. Dia orang Malaysia dari Etnik Cina yang menikah dengan pria Singapura. Ada tattoo selebar 4 jari tangan di tengkuknya. Sungguh bertolak belakang dengan wajah bersihnya.

Pertama kali aku lihat dia waktu sedang mengantar sekolah anaknya yang kebetulan sekelas dengan anakku. Wajah kekanakkannya agak pucat, mungkin lelah membawa perutnya yang membuncit sempurna dalam kehamilan 9 bulan. Kim sebentar sebentar memanggil anaknya yang selalu berlarian ke sana kemari.
"Ryan..Ryan!!! Come here!!," teriaknya dengan suara tertahan. Mungkin sudah habis suaranya.
Aku tahu betul rasanya mempunyai anak berumur 2 1/2 tahun yang aktifnya minta ampun, membalik kepadanya dan tersenyum.

"Hai...," sapaku padanya.
Kim tersenyum dan membalas sapaanku.
Kami mulai bercakap-cakap sambil menunggu kelas anak kami dibuka. Dia mengenalkan diri. Aku mengenalkan diri.
Usia Kim 24, sama dengan adikku. Lucunya ternyata usiaku sama persis dengan usia Cicinya.
Aku seperti menemukan sosok adik didirinya. Lagipula wajah inosen-nya membuat aku jatuh sayang.

Mulai hari itu kami selalu menyempatkan diri untuk ngobrol menjelang dan sepulang sekolah anak-anak.
Kim selalu kelihatan pucat, mungkin perutnya sudah terasa terlalu berat untuk dibawa kemana-mana, tapi dia tetap harus mengantar anaknya sekolah.

" Saya tak tahan di rumah. Mertua saya benci saya," kata Kim sambil mengunyah pelan Cakwe yang kami makan bersama di Coffee Shop depan sekolah.
"Apapun yang saya masak, dia bilang tidak enak, apapun yang saya lakukan dia bilang salah dan kemudian diadukannya kepada suami saya."
Aku bertanya sambil lalu, "Tidak pisah rumah saja?"
Kim memandangku dengan mata kanak-kanaknya.
"Out of question, mana bisa suamiku beli rumah. Dia tak punya CPF, tak mungkin ada uang cukup untuk beli rumah tanpa bantuan dari pemerintah."
Heran aku bertanya, "Tak punya CPF? Suami kamu kerja apa?"
Kim tersenyum simpul, "Dia kerja jadi bookies sampai beberapa bulan yang lalu." "Tahu kan apa itu bookies? Bookies adalah orang yang jadi bandar kecil-kecilan untuk judi illegal." "Itu kenapa dia tak dapat CPF."
Aku mengangguk pelan sambil menyeruput kopiku.
"Sekarang dia sudah tak jadi bookies lagi, saya minta dia cari kerja yang tetap, anak kami sudah mau dua."
"Dia sekarang sudah jadi teknisi lepas untuk perusahaan kontraktor. Lumayan untuk laki-laki yang tidak lulus pendidikan dasar," senyum Kim bangga.

Kim sendiri adalah lulusan sekolah menengah dan sempat kerja di Malaysia, di perusahaan yang memproduksi obat-obatan.
Dia bertemu suaminya yang waktu itu masih jadi anggota Gangster atau Secret Society di sebuah pub di Johor Bahru.
"Saya baru bisa masuk Singapore tahun kemarin." "Sebelumnya saya dilarang masuk Singapore karena tidak lulus uji tes urine." "Saya dulu peminum ekstasi."
"Ryan lahir di JB dan kemudian setiap minggu suami saya datang ke JB dan membawa Ryan bertemu neneknya di Singapore." "Saya sendiri tidak pernah bisa masuk Singapore karena masalah obat itu."

Aku mengangguk angguk mendengar ceritanya.
Kim tertawa melihat aku seperti tidak percaya dengan ceritanya.
"Kalau kamu ingat tattoo saya mungkin kamu baru agak percaya ya?"
Aku tersenyum.
"Semua orang punya masa lalu, Kim." "Kamu pun pasti tidak akan percaya kalau aku ceritakan tentang masa laluku."

Kim menghela napas dan menatap jemari tangannya yang membengkak karena water retention selama kehamilan, " Iya, memang. Tapi masa depanpun saya tidak tahu akan bagaimana." "Saat ini suami saya hanya bisa beri saya $500 perbulan, $150 saya kirim ke Bapak saya yang sudah tua di JB untuk biaya sekolah adik saya 2 orang. " "Sisanya untuk biaya makan sebulan, susu Ryan dan lain-lain." "Gajinya memang tidak banyak, tapi bagi saya cukuplah dia dapat kerja yang legal dan tetap."
Kim tersenyum padaku dengan sinar mata penuh harapan.

Aku telan kopiku dengan hati tercekat.
Sekali lagi aku terhenyak dengan kenyataan bahwa aku memang sering kurang mensyukuri apa yang aku dapatkan.
Bagaimana kalau aku jadi Kim?
Sanggupkah aku membanggakan suamiku yang mantan gangster dan jadi buruh perpenghasilan tak seberapa ?
Sanggupkah aku masih tersenyum dan menaruh harapan terhadap masa depan?

Buat Kim, suaminya berhenti jadi gangster dan mendapat pekerjaan tetap sudah lebih dari cukup. Katanya dia tak perlu khawatir lagi sewaktu-waktu suaminya ditangkap polisi karena menjadi bookies adalah pekerjaan illegal.
Dia bisa bahagia menyambut suaminya setiap jam 8 pulang dari pekerjaan tetapnya.
Buat Kim, kebahagiaan itu adalah waktu pemerintah Singapore mencabut larangan baginya untuk masuk wilayah Singapore untuk kemudian bisa berkumpul dengan suaminya.
Kebahagian itu adalah waktu suaminya memberinya $500 untuk hidup sebulan.
Waktu dia kirimkan uang $150 ke Johor Bahru untuk biaya sekolah adiknya.

Kim tersenyum padaku sambil berkata, " Mertuaku memang menyebalkan, tapi setidaknya aku bahagia berkumpul dengan suamiku dan anakku. And no mother in law could ruin that feeling!"

Hmmmmhh...aku harus belajar banyak dari Kim.

----------------------------------------------------------------------------
2nd February 2005
Untuk Kim yang kemarin melahirkan bayi keduanya.
Love you mei-mei :)


8 Comments:

Blogger Hany njeplak...

waw. seperti biasa. tulisan elo berhasil menyayat hatiku, Mel. keep on nulis, Mel.

btw, hotel Mela@BukitBatok bukannya kurang promo. ini kutukan warisan Fely, selalu kedatangan banyak tamu. ha..ha...ha...

5:31 PM  
Anonymous Anonymous njeplak...

mo3nk:
"what a wonderfull wishes of Kim...:) and...what a wonderfull writen...like usual...*siul-siul*"

7:30 PM  
Blogger Nauval Yazid njeplak...

Mel,
sumpah gue mau jeduk-jeduk pala abis baca postingan dirimu yang sempet membuat gue tercekat kaya orang cegukan (sorry ga nemu bahasa Indonesia yang pas buat ini)!

$500 per bulan buat hidup di negeri matre angkuh keji ini?!?!

tuh! sampe nada komentar gue dah sangat berbau matre juga!

tapi itulah hidup kali ya, ga peduli gaji berapa, kalo emang niat idup nyenengin orang laen, pasrah, nrimo, ada aja rejeki dateng yang God-only-knows where they come from.

aku suka kasian juga Mel, liat auntie-auntie yang biasanya nawarin minum kalo kita makan di hawker center, yang lebih parah lagi auntie-auntie yang bagian bersiin piring, mereka ga punya pilihan laen selaen bertahan idup dengan gaji yang super minim dan jam kerja yang kurang ajar kalo dipikir ama orang-orang biasa kerja jam kantoran, tapi liat deh, mereka happy banget ama kerjaannya! jadi inget sama auntie di hawker Holland V. sini yang ramah banget, suka nanyain gue ato Acay ttg asal usul kita, disini kita ngapain, pertanyaan remeh temeh yang ternyata nunjukin kalo dia perhatian banget ama customernya.

sementara gue disini ngeluh terus ga pernah puas ama kerjaan yang ga bisa ambil MC palsu demi ketemu dirimu ... :=)

10:12 PM  
Blogger Mel njeplak...

Hany : Hmm, sayang aja gak setiap saat mood nulis gue keluar :D
Kalau lagi bete abis, pengen banget nulis tapi otak gue kayak crowded gak jelas.

Moenk : Makasih say ;)

Indi : ??? Lha..kok komennya dihapus? Emangnya nulis apa Mas? :)

9:17 AM  
Blogger Mel njeplak...

Mama : Wah! Salamin deh Encim Moi dari Mea yah...
Hebat deh mau kerja begitu demi orang2 tercinta yang gak pasti apakah 20 tahun lagi akan inget bahwa dulunya ditolong sama Encim Moi.
Takutnya pas si Encim udah tua malah gak ada yang ngurusin lagi...hiks..kasian ah..jangan sampe..

Nauval : Pal..banyak lho kenalan dan temen gue yang survive dengan gaji di bawah $1000/ bulan. Gue menyaksikan sendiri pergulatan mereka.
Singapore ini memang negara matre abis, dan gue gak jelas bagaimana caranya mereka bisa survive.
Yang jelas, Tuhan entah dengan cara bagaimana menolong mereka agar uangnya cukup setidaknya untuk kebutuhan primer mereka.
Auntie2 yang di Coffee Shop di bawah rumah gue juga baik2..mereka suka nyapa Adam, "Boyboy...Boyboy...go jalan2 ah?"
:)
Hidup memang lebih bearable kalau kita selalu manis sama orang ya? :)
Paling males ama tipe jerk yang selalu pengennya beranteeem aja sama orang :P

Pal..MC illegal dooonggg :D (gak nyambung)

9:24 AM  
Blogger naanaaa njeplak...

namanya manusia digaji berapapun masih kurang, kalo duit berapapun dicukupcukupin pasti cukup.

11:53 AM  
Anonymous Anonymous njeplak...

*menghembuskan nafas panjang*

mel, tengkyu udah ngingetin bahwa gue udah dapet anugrah jauh dari kekurangan. $500 buat hidup di jakarta aja rasanya berat, nggak ngebayang di singapur. tapi di mana2, banyak orang yang survive hidup dengan uang jauh lebih kecil dari itu. sedangkan gue, buat nabung aja kok susah banget ya. tahun ini gue janji mau nabung lebih banyak. tapi...

duh, salam buat kim, dia mungkin nggak kenal gue, tapi bilang ma dia, ceritanya inspiring dan she's so lucky she met a big sister like you.

love you, dear *damn, gue nangis deh*

11:44 AM  
Blogger Mel njeplak...

Rio lagi yah? :)

Gue kemaren ketemu Kim, gue nengok ke rumahnya. Anaknya laki2 lagi dan diberi nama Javier. Bulat mukanya seperti Ibunya :)
Kim tidak pernah tau gue, dan mungkin juga kalian yang membaca cerita ini, bisa belajar banyak dari kisahnya..
Dari kata2nya yang diucapkan sambil lalu di Kedai Kopi waktu share 2 buah cakwe dengan gue...
She might be 24, but somehow, I felt she's more mature than me..

Mudah2an kita juga bisa besar hati menghadapi apapun seperti dia...:)

2:25 PM  

Post a Comment

<< Home